Minggu, 25 Desember 2011

Sistem Informasi Pelaporan Bank Kepada Bank Indonesia


1. Sistem Informasi Manajemen – Sektor Perbankan Bank Indonesia (SIM-SPBI)
SIMSPBI merupakan sistem informasi terpadu untuk mendukung tugas pengawasan, pemeriksaan dan pengaturan perbankan BI.
Tujuan dari penerapan SIM-SPBI adalah :
  • Meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem pengawasan dan pemeriksaan bank;
  • Menciptakan keseragaman (standarisasi) dalam pelaksanaan tugas pengawasan dan pemeriksaan bank.
  • Mengoptimalkan Pengawas dan Pemeriksa Bank dalam menganalisa kondisi bank sehingga dapat meningkatkan mutu pengawasan dan pemeriksaan bank;
  • Memudahkan audit trail oleh pihak yang berkepentingan;
  • Meningkatkan keamanan dan integritas data serta informasi 
SIM-SPBI terdiri dari 3 subsistem yakni :
  • Sistem Informasi Manajemen Pengawasan (SIMWAS), merupakan sistem informasi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi tugas-tugas pengawasan, pemeriksaan dan penelitian bank umum. Melalui SIMWAS, pengawas bank akan mampu mengoptimalkan kegiatan analisa dan memperoleh informasi mengenai kondisi keuangan bank (termasuk Tingkat Kesehatan Bank dan profil risiko) secara cepat. Modul-modul yang tersedia antara lain modul Data Pokok Bank dan modul Fit and Proper Test (FPT).
  • Sistem Informasi Bank dalam Investigasi (SIBADI), merupakan sistem informasi untuk meningkatkan tertib administrasi dan kemudahan pemantauan tugas dalam rangka investigasi tindak pidana di bidang perbankan. Melalui SIBADI, dapat dilakukan pemantauan terhadap perkembangan investigasi atas dugaan tindak pidana yang diakukan oleh suatu bank sejak laporan penyimpangan diterima, jadwal investigasi, langkah-langkah yang telah dilakukan sampai dengan hasil akhir investigasi dimaksud.
  • Data Mart Data Pokok Bank, yang menyediakan informasi yang berkaitan dengan kelembagaan, kepemilikan dan kepengurusan, operasional dan strategi pengawasan yang diterapkan pada suatu bank sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan informasi dalam rangka pengawasan dan pembinaan bank. 
2. Sistem Informasi Debitur (SID)
SID adalah sistem yang menyediakan informasi mengenai debitur baik perorangan maupun badan usaha, yang diolah berdasarkan laporan penyediaan dana yang diterima Bank Indonesia dari Pelapor. SID dikembangkan dengan tujuan untuk membantu : 
 a.  Bagi pemberi kredit, antara lain : 
  • Membantu dalam mempercepat proses analisis dan pengambilan keputusan pemberian kredit 
  • Mengurangi ketergantungan pemberi kredit kepada agunan konvensional.Pemberi kredit dapat menilai reputasi kredit calon debitur sebagai pengganti/pelengkap agunan.
  b.  Bagi penerima kredit, antara lain :
  • Mempercepat waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh persetujuan kredit
  • Nasabah baru,khususnya yang tergolong sebagai UMKM,a kan mendapat akses yang lebih luas kepada pemberi kredit dengan mengandalkan reputasi keuangannya tanpa harus tergantung pada kemampuan untuk menyediakan agunan.
3. Sistem Informasi Manajemn Pengawasan BPR (SIMWAS BPR)
SIMWAS-BPR merupakan sistem informasi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi sistem pengawasan BPR. Melalui SIMWAS, pengawas BPR akan mampu mengoptimalkan kegiatan analisis terhadap kondisi BPR, mempercepat diperolehnya informasi kondisi keuangan BPR (termasuk Tingkat Kesehatan BPR), meningkatkan keamanan dan integritas data serta informasi perbankan. Modul-modul yang tersedia dalam aplikasi SIMWAS BPR antara lain modul perizinan pendirian BPR, data pokok BPR, Tingkat Kesehatan BPR, status BPR, cabut izin usaha dan likuidasi BPR.



Source : sumber

Pentingnya Penggunaan Framework dalam Pemrograman

CodeIgniter Framework
Setiap programmer PHP perlu memahami pentingnya memanfaatkan framework didalam membangun sebuah aplikasi. Ini tidak berlaku untuk programmer PHP saja, tetapi juga untuk setiap programmer dengan menggunakan bahasa pemrograman manapun. Tanpa adanya sebuah software framework maka pengembangan sebuah aplikasi akan menjadi semakin rumit dan memakan waktu yang lama. Karena biasanya sebuah software framework yang baik akan mampu menangani seluruh hal-hal standar yang dibutuhkan didalam pengembangan aplikasi. Hal-hal standar tersebut contohnya adalah masalah security, text-processing, pemodelan pemrograman (misalnya: modular atau MVC), database connectivity, dan lain-lain. Sehingga pada akhirnya seorang programmer hanya perlu fokus pada logika pemrograman yang berhubungan dengan kebutuhan untuk apa aplikasi tersebut dibangun. Hal yang perlu diperhatikan disini adalah bahwa setiap pengguna salah satu framework akan merasakan betapa mudahnya sebuah aplikasi itu dibangun dengan menggunakan framework tersebut jika dibandingkan tanpa menggunakan sebuah software framework.
Didalam dunia pemrograman PHP ada beberapa framework PHP yang terkenal dan sering dipakai untuk membangun sebuah aplikasi. Misalnya CodeIgniter, Zend Framework, CakePHP ataupun Symphoni. Tetapi didalam artikel ini tidak akan dibahas framework-framework tersebut secara satu persatu. Hal ini akan dibahas pada artikel yang lain. Selain itu saya tidak menekankan agar anda memakai salah satu software framework tertentu yang mungkin menurut anda lebih baik. Karena untuk menilai sebuah framework itu lebih baik dari yang lain diperlukan sebuah proses review yang mendalam. Siapa tahu anda juga dapat membuat software framework anda sendiri yang lebih hebat dari framework-framework yang sudah ada sekarang.
Software framework jika bisa dijelaskan adalah sekumpulan kode (code library) yang dirancang untuk memfasilitasi sebuah pengembangan aplikasi dengan membuat bagian-bagian berupa fungsi ataupun abstrak dari suatu bahasa pemrograman dan selanjutnya membuat serta menyediakan aturan-aturan standar bagaimana bagian-bagian berupa fungsi ataupun abstrak tersebut dapat diakses serta digunakan.
Dibawah ini adalah alasan-alasan mengapa menggunakan sebuah software framework didalam pemrograman PHP menjadi sangat penting. Walaupun didalam artikel ini tidak dibahas secara lengkap tentang pengertian framework secara lebih rinci namun diharapkan dengan membaca artikel ini anda akan beralih menjadi programmer yang framework-minded didalam pengembangan aplikasi.
Alasan ke-1 : Efektifitas dan Efisiensi Pemrograman
Dengan menggunakan sebuah software framework yang baik setidaknya akan mengurangi beban kerja seorang programmer karena akhirnya fokus seorang programmer hanya pada logika proses (alur proses pada aplikasi) sesuai dengan kebutuhan yang diminta kepadanya. Tentunya ini akan membuat pekerjaan pengembangan aplikasi akan menjadi cepat dan akan berujung pada penyerahan pekerjaan yang tepat waktu.
Mungkin akan menjadi semakin jelas jika saya berikan contoh. Untuk masalah security program tidak semua programmer mampu menangani permasalahan ini. Padahal fungsi security termasuk yang sangat penting didalam sebuah aplikasi besar yang membutuhkan tingkat security yang baik. Apalagi misalnya pada aplikasi yang menangani privacy keanggotaan pada sebuah komunitas ataupun aplikasi yang mengolah data berupa angka yang membutuhkan tingkat ‘kerahasiaan’ yang tinggi. Dengan memilih sebuah framework yang memiliki tingkat sekuritas yang baik, maka selanjutnya programmer hanya perlu memfokuskan diri pada kebutuhan untuk apa fungsi keamanan itu dibuat. Tentunya ini akan menghemat waktu bukan?
Alasan ke-2 : Memudahkan Stukturisasi dan Standarisasi Pemrograman
Masalah ini biasanya muncul jika seorang programmer sedang mengembangkan sebuah aplikasi besar apalagi sistem yang dibangun termasuk yang berukuran ‘raksasa’. Semakin banyak kode-kode program yang dibuat akan semakin sulit proses debugging-nya apabila jika kemudian terjadi error program atau jalannya program tidak sesuai dengan yang diinginkan. Maka dari itu pilihlah sebuah software framework yang memiliki standar serta struktur program yang baik, yaitu yang memudahkan anda untuk menelusuri, mencari bagian-bagian dari kode program anda yang mungkin perlu diperbaiki ataupun dikustomisasi.
Sebagai contoh pada framework CodeIgniter (CI) yang menggunakan konsep MVC (Model-View-Controller). Dengan konsep MVC ini maka seorang programmer bisa memilah-milah antara View, Controller dan Model dan selanjutnya mengembangkan sendiri struktur programnya. Maka penggunaan framework CodeIgniter membantu seorang programmer dalam menstrukturkan kode programnya berdasarkan konsep MVC, yaitu dengan memisahkan antara file-file tampilan/HTML pada bagian view, sedangkan file-file yang menangani logika proses pada bagian controller dan file-file yang menyimpan fungsi-procedure ataupun model pada bagian model. Dengan demikian selain kita bisa menggunakan semua library yang disediakan oleh software framework tersebut kita juga bisa menggunakannya sebagai standar untuk menstrukturkan program kita.
Alasan ke-3 : Memudahkan Koordinasi dan Pemeliharaan Untuk Pemrograman Terdistribusi
Pada pengembangan aplikasi yang berukuran besar seringkali seorang project manager harus melibatkan banyak anggota tim programmer. Sehingga pekerjaan pada satu buah proyek yang besar harus didistribusikan kepada tim yang beranggotakan programmer dengan jumlah yang banyak pula. Mungkin pada kasus ini mengikuti sebuah prinsip ‘semakin banyak orang yang terlibat semakin banyak pula solusi yang tercipta’. Walaupun tidak seluruhnya terbukti benar, karena kita sering menemui kenyataan bahwa semakin banyak orang semakin banyak pula keinginannya. Jadi sulit untuk mengatur banyak orang. Sehingga dengan banyaknya programmer yang terlibat pada suatu proyek menciptakan permasalahan yang tidak kalah rumit yaitu masalah standarisasi dan koordinasi. Sehebat apapun tim programmer didalam sebuah proyek tetapi kalau tidak terkoordinasi dengan baik dan juga standar yang baik didalam membuat kode program maka pengerjaan proyek tersebut bisa terlambat dan ujung-ujungnya proyek menjadi merugi. Dengan demikian penggunaan software framework akan membuat terkoordinasinya pekerjaan tim anda dan dengan melibatkan banyak anggota programmer akan menjadikan sebuah proyek dapat dikerjakan dengan lebih cepat. Jika sudah demikian maka menurut pengalaman saya, sebuah tim proyek hanya membutuhkan seorang integrator yang tugasnya mengintegrasikan hasil kerja anggota tim menjadi sebuah aplikasi besar.

Source : sumber

Trend Pemrograman Web Berbasis Framework

Bisa dibilang membuat aplikasi berbasis web itu gampang-gampang susah. Di satu sisi bahasa pemrogramannya mudah dipelajari namun disisi lain kemudahan tersebut sering kali malah membuat si programmer terlena.
Faktor keamanan (security) adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam aplikasi web. Maklum saja yang namanya aplikasi berbasis web pastilah bisa diakses dari manapun melalui browser. Jadi harus dipastikan tingkat keamanannya cukup tinggi.
Sayangnya tidak semua developer menyadari akan hal tersebut. Bahkan ada yang mengembangkan aplikasi web asal jalan saja, tanpa di-optimasi dan tidak memperhitungkan keamanan data. Akibatnya bisa ditebak, aplikasi tersebut mudah dijebol oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Tapi untunglah ada pendekatan baru dalam pemrograman web yang bisa meng-handle masalah-masalah tersebut. Salah satunya adalah pemrograman web berbasis framework.
Framework bisa diartikan sebagai bingkai atau kerangka dasar dalam membuat aplikasi. Framework ini menyediakan berbagai library untuk mengembangkan aplikasi web secara cepat dan mudah, tapi aman di sisi security-nya.
Ada beberapa framework yang cukup terkenal saat ini, antara lain:
  • Ruby: Ruby on Rail
  • PHP: CakePHP, CodeIgniter, Symphoni, Prado
  • Java: Apache Struts, Cocoon, Spring
  • Windows Platform: ASP.Net, C#, VB.Net
    Selain framework di atas, masih banyak framework lain yang bisa dipakai untuk membuat aplikasi web.
    Ada 5 fitur yang biasanya terdapat pada framework, yaitu database access, authentication, data validation, data sanitization, dan template system. Beberapa framework bahkan ada yang menyediakan API atau library untuk AJAX.
    1. Database Access
    Sudah bukan jamannya lagi membangun web statis. Saat ini semuanya serba dinamis. Untuk itu diperlukan adanya database. Fitur database access ini merupakan fitur yang sangat penting.
    2. Authentication
    Aspek authentication adalah isu yang sangat penting dalam pemrograman web. Hal ini berkaitan dengan gimana caranya mengembangkan aplikasi web yang aman.
    3. Data Validation
    Validasi diperlukan untuk memeriksa keabsahan data yang akan disimpan di database. Data haruslah valid, baik itu tipe datanya, format yang diijinkan, ukuran data, dan sebagainya.
    4. Data Sanitization
    Programmer seringkali melupakan hal yang satu ini, yaitu sanitasi data. Apakah setiap query ke database tersebut benar-benar aman? Belum tentu, bisa jadi query tersebut berisi kode yang bisa merusak database. Disinilah pentingnya sanitasi data.
    5. Template System
    Pada framework tampilan itu terpisah dari business rule. Inilah yang membedakannya dengan pemrograman web secara konvensional.

    source : www.sorsawo.com

    IPTV (Internet Protocol Television) VS TV Tradisional


    Menurut Burget, R dan Komosny (2009) Internet Protocol Television (IPTV) adalah layanan dimana data dari sinyal televisi digital ditransmisikan melalui Internet Protocol. Teknologi ini dianggap lebih murah dan efisien dibandingkan dengan teknologi siaran yang ada sekarang (menggunakan coaxial cable dan atau televisi satelit) karena dianggap tidak perlu membangun infrastruktur baru (menumpang pada jaringan internet yang sudah ada sekarang).
    Penyediaan jasa IPTV menggunakan IP network berimplikasi positif pada efisiensi penggunaan jaringan. Dalam jaringan IP trafik dapat diatur sedemikian rupa sehingga beberapa jenis paket bundling bisa dilewatkan di atasnya. Selain itu terdapat kelebihan yang secara signifikan membedakan IPTV dari TV konvensional adalah dapat disediakannya layanan yang bersifat interaktif seperti Video on Demand, tidak seperti siaran TV lama yang lebih bersifat broadcast satu arah saja.
    Dasar dari layanan IPTV adalah triple play, dimana data, video, voice, dapat dipertukarkan di dalam jaringan tempat layanan di kirimkan. IPTV tidak hanya menyediakan jasa video, beberapa layanannya meliputi:
    • Broadcast Services (BC) : adalah live TV dan radio channel yang dikirimkan secara broadcast atau multicast melalui jaringan.
    • Personal Video Recorder (PVR), adalah alat perekam yang akan merekam siaran untuk diputar di lain waktu.
    • Network Persoanal Video Recorder (NPVR), versi jaringan dari PVR, NPVR tidak mesti ditempatkan di rumah pelanggan.
    • Elektronic Program Guide (EPG), adalah layanan yang memberikan info program-program yang sedang berlangsung dan program-program kedepan dari layanan.
    • Information Services, layanan bersifat informasi, berita, laporan cuaca dll. Interactive TV, TV show, dimana pelanggan bisa secara interaktif berinteraksi dengan Interactive Applications. Layanan lain dari service ini adalah Broadband Applications, video conferencing, e-Learning, dan security monitoring.
    Adapun perbandingan IPTV dengan TV Tradisional, analisis perbandingannya adalah sebagai berikut :
    1. Platform
    IPTV dan TV Analog mempunyai perbedaan yang cukup mendasar yaitu IPTV didasarkan pada jaringan telekomunikasi digital sedangkan pada TV Analog digunakan jaringan analog. IPTV menggunakan protokol internet untuk melakukan pengalamatan sedangkan pada televisi analog menggunakan frekuensi pancaran dari stasiun pemancar.
    Kelebihan yang ditawarkan jika menggunakan platform digital ini adalah nilai noise yang dihasilkan akan jauh lebih sedikit dibandingankan dengan jaringan TV Analog. Sedangakn TV analog rawan terjadinya redaman ketika cuaca-cuaca tertentu dan juga akan sulit untuk melakukan komunikasi atau penyiaran jika terdapat NLOS(non Line of sight) antara pemncara dan penerima sehingga diperlukan stasiun relay yang biasanya terletak di pegunungan.
    2. Cakupan Geografis
    Jairngan yang dikontrol dan diatur pada IPTV mempunyai jangkauan yang terbatas tergantung pada ketersediaan operator telekomunikasi.Pada jaringan TV analog, system jaringan dimiliki oleh penyedia layanan tersebut, namun secara geografis cakupan TV analog bisa jauh lebih luas terutama karena adanya stasiun relay yang meneruskan siaran dan juga adanya satelit yang membantu dalam melakukan siaran televisi
    3. Kepemilikan Infrastruktur Jaringan
    TV analog mempunyai jaringan yang dikuasai oleh sendiri, tetapi ada juga jaringan yang dimiliki oleh bersama. Kontrol terhadap jaringan yang ada dalam ruang lingkupnya cenderung lebih lemah kaena cakupan geografisnya cuup besar Begitu juga terhadap kontrol penyiarannya, seringkali dapat melewati batas antar negara sehingga kadang menggangu jaringan di negara lain, sebagai contoh kasus penyaiaran piala dunia 2006 di mana di Indonesia hak siarnya berada pada TV yang tidak berbayar sedangkan di Malaysia hak siar berada pada televisi berbayar. Oleh karena siaran televisi Indonesia mampu masuk ke Malaysia maka terjadi protes dari TV berbayar tersebut. Sedangkan ada IPTV digunakan jaringan yang dimiliki oleh sendiri (privat) sehingga perbaikan dan juga pengawasan terhadap jaringan biasanya lebih cermat dan baik yang akan mendukung kulitas layanan IPTV.
    4. Mekanisme Akses
    Mekanisme akses pada IPTV adalah dengan menggunakan sebuah digital set-top box yang digunakan untuk mengakse dan mengodekan kembali konten video yang dikirmkan. Sedangkan pada TV analog menggunakan peralatan penguat dan filter untuk memisahkan gelombang pembawa sebagai kompnen utamanya.
    5. Biaya
    Layanan Televisis analog dapat dinikmati secara gratis dan sebagai kompensasi maka akan ditayangkan sejumlah iklan pada sela-sela acara sehingga cukup mengganggu ketika menonton suatu acara tertentu. sedangkan pada IPTV ada biaya tertentu yang harus dibayarkan bisasnya dalam periode per bulan.
    6. Metedologi Layanan
    Layanan TV Analog biasanya hanya dari saatu penyedia layanan saja misalnya stasiun RCTI hanya menyediakan ayana dari RCTI, begitu juga dengan SCTV, TPI, dan Indosiar. ,Sedangkan IPTV menggunakan beberapa program yang ditayangkan oleh stasiun televise tradisonal dan juga film, dimana media yang mendukung layan ini cukup banyak.